Dipercaya Bawa Berkah, Warga Banyuwangi Berebut Air Perasan Kain Kafan Buyut Cungking

Dipercaya Bawa Berkah, Warga Banyuwangi Berebut Air Perasan Kain Kafan Buyut Cungking – Menyongsong datangnya bulan suci Ramadan, warga Suku Using (suku unik Banyuwangi) di Lingkungan Cungking, Kecamatan Giri, Banyuwangi, menyelenggarakan rutinitas unik. Rutinitas itu bernama Resik Lawon.

Ritual yg udah dilakukan warga ditempat sejak mulai beberapa ratus tahun yang kemarin itu jadi bentuk penghormatan terhadap nenek moyang serta pembersihan diri sebelum masuk bulan Ramadhan.

Resik lawon adalah suatu ritual membasuh serta merubah kain kafan penutup petilasan Ki Buyut Cungking sebagai nenek moyang dari penduduk ditempat.

Ritual diawali terlebih dulu dengan melepas kain putih yg tutup cungkup di petilasan Ki Buyut Cungking. Sesaat sejumlah kain yg butuh diperbaiki pula dijahit kembali oleh penduduk dengan cara swadaya.

Lantas, kain-kain itu dibawa ke Sungai Banyu Gulung yg ada di Kelurahan Banjar sari, Kecamatan Glagah buat dicuci. Kain lantas dicuci serta diperas biar cepat kering. Menariknya, air perasan dari kain kafan tak langsung dibuang, namun jadi berubah menjadi rebutan penduduk lantaran diyakini dapat membawa barokah.

” Penduduk Cungking mengakui bila air perasan kain lawon (kafan) dari buyut ini dapat membawa barokah. Kebanyakan penduduk membawa botol sendiri dari rumah, lantas airnya disimpan. Tidak cuman diminum, air dapat disapukan ke anggota tubuh yg sakit. Ada juga penduduk yg memanfaatkan air ini buat disiramkan ke sawah biar panennya bagus, ” papar Febri, pemuda asli Lingkungan Cungking terhadap wartawan, Minggu (21/4/2019) .

Seusai diperas, kain lawon atau kafan dengan panjang 100 mtr. lebih itu dijemur di selama jalan desa dengan ketinggian lima mtr.. Kain diikat dengan tali tambang hitam yg dibentangkan pada bambu.

Salah satunya ketentuan ritual itu merupakan kain putih tak bisa jatuh serta terserang tanah. Apabila udah mongering, kain itu di turunkan serta dibawa kembali lagi balai judul yg berada pada tengahnya Lingkungan Cungking.

” Dapat diistilahkan, Rutinitas Resik Lawon ini adalah ritual merubah busana. Merubah yg kotor buat ditukar dengan yg bersih. Ditambah lagi ini kan udah saat Ramadan. Dikehendaki, sebelum datangnya Ramadan ini raga serta jiwa kita berubah menjadi suci kembali, ” kata Jam’i Abdul Gani, Ketua Rutinitas Lingkungan Cungking.

Dikehendaki dengan dibukanya ritual resik lawon ini warga dapatkan barokah dari doa-doa yg dipanjatkan sepanjang ritual.

” Ini pun jadi bentuk bentuk sukur penduduk Cungking atas layanan dari buyut kami ialah Ki Buyut Cungking. Semua aktivitas kami melakukan dengan cara swadaya dari penduduk, ” katanya.